Rabu, 02 Maret 2011

KALIMAT ARGUMEN DAN KALIMAT PENALARAN PADA ARTIKEL

Ket. : Sebagai kalimat penalaran saya beri efek tulisan bold.
Sedangkan kalimat argumentasi saya beri efek italic.


ARTIKEL 2.

Buku dan Seragam Tertimbun Reruntuhan Rumah
Laporan wartawan KOMPAS Adi Sucipto
GRESIK, KOMPAS.com - Eksekusi lahan seluas 3.580 meter persegi di Jalan Dr Wahidin Sudiro Husodo Kelurahan Kebomas Gresik masih menyisakan duka. Bukan hanya 40 rumah dan sembilan bangunan bengkel, toko dan warung di lahan sengketa tersebut yang luluh lantak. Namun bangunan yang dirobohkan meluas ke 1.420 meter persegi berisi 14 toko dan dua rumah di luar obyek sengketa turut porak poranda.

Perwakilan warga, Sutoyo akan mengajukan keberatan. Dia dan Mustofa dan Asiah diantara warga yang punya dokumen kepemilikan lahan berupa sertifikat dan petok D.

Kini ada yang lebih memilukan lagi, lebih dari 20 siswa yang tinggal di lokasi lahan itu kehilangan buku dan seragam sekolahnya. Buku-buku dan seragam itu turut tertimbun bongkahan reruntuhan bangunan. Sejumlah siswa terpaksa membolos mencari buku-bukunya.
Mereka juga terpaksa belajar di bawah tenda untuk persiapan ujian. Marini (12) siswa kelas VI SD Negeri Kawisanyar, Hasyim Asyari (11) siswa kelas V SD Tlogopatut 2, Hilmi Fanani (10) siswa kelas IV MI Yayasan Islam Sunan Giri, Safaatul Nasiah serta Maulana Iskak adalah beberapa siswa yang kehilangan buku dan seragam.

Mereka berusaha mencari dan mengumpulkan buku-bukunya ke dalam kardus. "Saya bolos karena buku dan seragamnya hilang (tertimbun reruntuhan-red)," kata Hilmi.

Menurut Ketua RT 01 RW II Kelurahan Kebomas Munasir, saat ini ada banyak siswa yang bernasib sama. Pihaknya atas perintah Lurah Kebomas, Hamid masih mendata siswa yang tinggal di bekas lahan eksekusi. Rencananya Dinas Pendidikan Gresik akan membantu buku sekolah elektronik.

Warga lainnya Iriantono menuturkan sementara warga bertahan di sela-sela puing-puing reruntuan atau mendirikan tenda. Anak dan perempuan dibuatkan gubuk sementara sedangkan yang laki-laki memilih tinggal di sela-sela reruntuhan.

Di antara yang tinggal di tenda keluarga Iriantono (43), Munasir (53), Suharno (37), keluarga Safaatul Nasiah, serta Marini bersama ibu dan kakaknya. Sementara Supi (53) tinggal di sela reruntuhan dengan peneduh triplek dan seng. "Saya tidur dekat bekas kakus," kata Supi.

Menurut Iriantono, sebagian besar warga yang tinggal di situ menjadi pedagang kaki lima. Kini mereka tidak tahu harus berbuat apa. Mereka kehilangan tempat tinggal. "Ya besi dan barang sisa reruntuhan yang bisa dijual ya kami jual. Makanya kami pecahkan bongkahan tembok untuk mengumpulkan bekas besi tulang beton. Itu akan kami jual buat makan," kata Iriantono.

Mereka juga harus beradu cepat dengan pemulung untuk mengais sisa barang yang masih tertimbun. Sebagian masih mengumpulkan pakaian yang belum sempat terselamatkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar